30 November 2011

8

Wanita itu berbisik lirih
mengeras
gendang telingaku beku, tawanya sedingin es batu.

Sejenak tawanya reda
"Dimana udara?" suaranya hampir tiada.
Rinduku memakannya; sebagai makanan pembuka.

Menorehkan kuku pada pipi, tawanya kembali tak terhenti.
Menimbulkan luka tak terperi.
Di matamu, tak pernah cukupkah diri? Kurang duri apalagi?


Wanita itu tersenyum, suntikkan berjuta serum.
Tak kuasa aku menahan cium.
Ah! Tubuhnya harum.

Lagi dan lagi
rima melodi tak kunjung henti.
Hingga kapan akan terus begini?
Ingin berhenti, Gabriel menahan diri.

Wanita itu kembali tertawa.
Merdu bagaikan sonata
iringi peti kematiannya.

Aku terkekeh pelan.
Ini tidak nyata, bukan?


Bumi, 01-12-2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar