21 Desember 2011

9

Semacam getaran dari dalam.
Merinding? Mungkin.

Aku sayang kamu
itu kalimat tabu.
Membuat isi perut membisu
ingin keluar dari tubuhku.

Apa?
Aku sang pemberi harapan palsu?
Bukankah itu maumu?

Bumi, 21-12-2011

30 November 2011

8

Wanita itu berbisik lirih
mengeras
gendang telingaku beku, tawanya sedingin es batu.

Sejenak tawanya reda
"Dimana udara?" suaranya hampir tiada.
Rinduku memakannya; sebagai makanan pembuka.

Menorehkan kuku pada pipi, tawanya kembali tak terhenti.
Menimbulkan luka tak terperi.
Di matamu, tak pernah cukupkah diri? Kurang duri apalagi?


Wanita itu tersenyum, suntikkan berjuta serum.
Tak kuasa aku menahan cium.
Ah! Tubuhnya harum.

Lagi dan lagi
rima melodi tak kunjung henti.
Hingga kapan akan terus begini?
Ingin berhenti, Gabriel menahan diri.

Wanita itu kembali tertawa.
Merdu bagaikan sonata
iringi peti kematiannya.

Aku terkekeh pelan.
Ini tidak nyata, bukan?


Bumi, 01-12-2011

27 November 2011

7 (Seperti Semacam)

Siapa?
Aku memanggilmu sebagai si berlebihan
dan kamu, menganggapku sebagai sosok menyebalkan.

Seperti sebuah kisah marjinal
dimulai ketika kita tak saling mengenal
Dan mulailah alur yang mengarah pada super marjinal

Suatu hari, yang lain mengetuk pintu yang satu
"Bolehkah aku masuk?" ujarmu padaku.
Aku membiarkanmu masuk tanpa meragu.

Kemudian turun hujan
Kita menepi berbagi dipan
Supaya hujan yang terselip lewat genting tak membasahi uban

Kemudian kita mulai tak tahan
Kamu dan Aku mulai berperang
Indahnya, setelah itu kita selalu berpelukan.

Seperti sepasang sepatu
Saat ini kita menyatu
Entah hingga kapan. Hingga yang lain meninggalkan yang satu.

Bumi, 27-11-2011

P.S.     Teruntuk Ahmad Rizki di ulang tahunnya yang ke 16. Semoga tuhan memberkatimu. Kita semakin dewasa sekarang, sudah perlu menentukan apa yang harus dilakukan. Selamat berproses dalam hidup. Aku mengaminkan segala doa baik untukmu, Ki.

26 November 2011

6 (Bagaimana Bisa?)

Entah bagaimana
udara penuh akan feromon.
Bagaimana bisa?
Ini luar angkasa.
Ruang hampa udara.

Tampak Aphrodyte dan Magdalena
bercumbu.
Bulan menari dibawah hujan.
Bagaimana bisa?
Ini luar angkasa.
Ruang hampa gelora.

Kegilaan ini entah hingga kapan.
Sesak.
Aku berteriak pada dua perawan
Hentikan!
Mereka hanya tertawa.
Bagaimana bisa?
Aku ini ksatria.
Mereka tak boleh tertawa!

Aphrodyte dan Magdalena menyapa
memeluk tanpa suara
Seketika aku jatuh cinta. Kami bercinta.
Bagaimana bisa?
Mereka milik para dewa.

Bosan
mereka kembali dalam rengkuhan dewa.
Bagaimana bisa?
Aku kurang gagah apa?

Aphrodyte dan Magdalena pun tiada.
Kegilaan mereda. Aku tertawa.
Namun tak sempurna.
Entah apa. Sedikit sesak.
Bagaimana bisa?
Mereka telah menarik feromonnya.
Apa ini sesungguh rasa?

Bumi, 26-11-2011

12 Agustus 2010

5

Bila aku harus menggambarkan pikiranku tentangmu, begitu abstrak.
Sulit untuk deskripsikanmu dengan sederhana seperti cinta kita.

Setelah sekian waktu yang kita lalui bersama,
hanya satu deskripsiku untukmu.

Kau begitu indah.
Membuatku tersenyum bahagia.
Menenangkanku layaknya simfoni yang mengalun lembut.

Segala hal tentangmu buatku begitu menyayangimu
tepat 100 hari.

Ketika aku tahu itu sekadar personamu,
aku hanya bisa tersenyum penuh ironi.
Menertawakan diri.

Mengapa aku bisa sebodoh ini?
Menyayangi sosok yang tak pasti.

Ha. Ha. Ha.
Aku tertawa sakit.
Begitu menusuk, menancap dalam.

Bila saja waktu dapat diputar kembali
aku akan berharap dan berdoa pada tuhan.
Agar aku tak pernah mengenalmu.

[Surat ini ditulis untuk mantan pacar seorang sahabat saya yang tertangkap selingkuh]